Friday, November 2, 2012

Bagai Anak Ayam Kehilangan Induknya

Bissmillahirrohmanirrokhim

Bagai anak ayam kehilangan induknya, sering telinga kita mendengar ungkapan itukan? arti umumnya adalah perasaan nestapa yang akhirnya berkembang menjadi kebingung/kalang kabut karena telah ditinggalkan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya, sesuatu itu biasanya adalah seseorang yang dekat dengan kita dan kedekatannya itu adalah rasa ketergantungan kita kepadanya.

Pernah kita mengalami?
Bagaimana andai kita yang sedang mengalami?
Siapkah kita andai tiba-tiba mengalami?

Setiap orang akan pasti, pernah atau akan mengalaminya.
Seorang istri/anak yang ditinggal suami sekaligus ayah bagi anaknya , alhasil siapa yang ditinggalkan akan mengalami perasaan terkatung-katung dan ketakutan akan nasib keberlangsungan hidup masa mendatang,

Seseorang yang kehilangan pekerjaan karena terPHK atau karena sudah waktunya pensiun juga tak kalah susahnya,
Atau bentuk-bentuk kehilangan  lain yang serupa dengan kasus di atas meskipun dengan tingkat dan derajat berat-ringannya masalah yang berbeda, semakin berarti yang meningggalnya semakin berat juga perasaan kehilangannya.

Perlu satu tahun lebih lamanya untuk menyesuaikan perasaan kehilangan itu, seolah belum percaya saja ketika seorang figur ayah yang jadi tokoh sentral dan kebanggaan, yang merupakan satu-satunya penopang kehidupan keluarga secara mendadak dikabarkan meninggal dunia. Tak ada dan tak perlu lagi untuk menggambarkan rasa sedih dan penyesalan karena kehilangan itu karena setiap orang pasti juga mengalaminya, mau tidak mau suatu saat harus mengalaminya.

Sobat semua, bentuk contoh kehilangan di atas adalah peristiwa sunnatulloh yang  wajar dan melekat dalam perhatian kita ; ada hidup pasti akan mati, ada siang pasti sebentar lagi malam, ada pagi sebentar lagi senja menjelang, ada muda tanpa ditunggu, sebentar lagi usiapun menjadi bangka dan seterusnya. Ada bentuk kehilangan yang kadang luput dari perhatian kita sehingga kita terlena melewatkan begitu saja

1. Umur  adalah kesempatan; dibiarkan mengalir liar tanpa usaha mewarnai usia itu dengan aktivitas-aktivitas yang berarti, akhirnya tiba-tiba saja kita terlambat sadar karena ternyata kita telah menyia-nyiakannya

2.Keimanan ; begitu juga, tidak terpelihara dengan baik setelah datangnya hidayah kesadaran, tiba-tiba saja rasa keimanan itu telah membeku  sampai akhirnya ternyata maut tak mau berkompromi lagi untuk menunda sesuai dengan keinginan kita.

Jika kehilangan istri/suami yang masih bisa dicari  dengan lebih banyak lagi, yang jika kehilangan anak yang masih bisa dibikin lagi, atau jika kehilangan harta benda apalagi masih mungkin  dicari lebih banyak lagi itu, akan membuat kita bersusah-susah seperti anak ayam kehilangan induknya, apalagi andai kita telah kehilangan umur dan keimanan ?

Memang apapun bentuk kehilangan itu tidak ada menyenangkan, sedih dan susah semuanya, apalagi jika harus kehilangan umur dan keimanan, kemana ini akan dicari, karena sebenarnya keduanya juga menjadi tokoh ibu bapak kita dalam kehidupan , kehilangan keduanya jauh lebih berakibat fatal, karena ke duanya merupakan  nilai yang harus dipertanggungjawabkan dalam kubur hingga padang maghsyar

Demikian sobat, barangkali postingan ini ada kesamaan dengan posting-posting sebelumnya klik1, klik 2 tapi berharap ini bermanfaat untuk renungan singkat di hari Jum'at ini.




 

21 comments:

  1. memaknai kehilangan sebagai bentuk perenungan, bahwa yg telah hilang tak mungki bsia kita ambil lagi. Terutama jk kehilangan umur, tentu akan butuh penggandaan dan pengkali-lipatan kualitas diri utk menggantikan umur yg hilang tanpa catatan kebaikan di dalamnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak untuk mengganti umur yang telah disia-siakan butuh kerjakeras untuk mengganti ketertinggalannya jika tidak pasti penyesalan akhirnya yang didapat, terima kasih komentarnya

      Delete
  2. iman dan umur sebenarnya yang perlu di takuti untuk hilang ya pak dari pada yang lainnya, makasih sharenya. kren

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya begitulah sob, terima kasih komentarnya

      Delete
  3. aku paling tajut kehilangan keimana....
    tq Om buat renungannya :D

    ReplyDelete
  4. selama msh ada nafas berarti dunia blom berakhir.., lagian pintu2 rezeki itu banyak ko'... *smile

    ReplyDelete
    Replies
    1. kesadaran dan kesabaran itulah sob yang susah

      Delete
  5. susah di komentari apalagi buat dibahas nih. cuman bisa bilang "renungan yang klop banget".

    ReplyDelete
    Replies
    1. terus terang mempostingan ini saya tidak pd sob

      Delete
  6. faktor kesiapan mental bagi seseorang, menjadi sangat penting dan utama bagi kita. dalam kondisi apapun, jika kita mengedepankan iman, tak akan berasa berat menghayati kehidupan.

    ReplyDelete
  7. ya saya pernah mengalaminya. Kami ber 7 perwakilan Kang Guru Indonesia kini sudah setahun lebih "didiamkan" oleh kang Guru Indonesia. Nasib kami ber 7 seperti tidak jelas. Selama ini kan kita ber 7 dibawah supervisi dan pengarahan dari KangGURU Indonesia namun sejak ada program baru, kami dibiarkan tanpa ada pengarahan apa pun. Bingun dan tidak tau harus berbuat apa

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi kan Kang Asep induknya banyak, hehe

      Delete
  8. Saya juga pernah merasa bagai anak ayam kehilangan induknya waktu dosen wali pensiun dan entah harus kemana jika ada masalah perkuliahan. Hehhee.. Ini kehilangan dalam versi yang berbeda :)

    Hal yang paling saya takutkan awalnya adalah kehilangan karena kematian, tapi sekarang jadi tahu bahwa kehilangan iman lebih menakutkan. Terima kasih untuk artikelnya :)

    ReplyDelete
  9. renungan yang menggugah hati agar selalu mawas diri, segala sesuatunya pasti kan kembali kepada illahi Robbi....

    ReplyDelete
  10. setiap harinya kalau bisa jangan sampai sia-sia ya.. :)

    ReplyDelete
  11. Judulnya pepatah yg rada unik tapi penuh dengan makna.

    ReplyDelete
  12. kunjungan perdana sobat :)
    follow sukes ke 165
    visit, koment, n follow balik dblogq y :)

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah sampai saat ini belum pernah merasa kehilangan orang-orang yang disebutkan diatas, tapi sebagai manusia tentu saya harus siap menjalankan "sunatullah" itu, semoga setelah bca ini, saya dapat lebih mencintai dan menyayangi orang2 tercinta.
    nice share kang.
    salam sehat selalu yah.

    ReplyDelete
  14. Kita tentu tersentuh ketika membaca artikel ini. Seorang muslim tentu akan mengucap 'inna lillahi wa inna ilaihi rojiun' ketika menerima musibah. Umur manusia menjadi salah satu modal utama yang hendaknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dengan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Salam sukses.

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan :
1. Santai sesantai-santainya dan santun sesantun-santunnya,
2. Yang porno-porno nanti dulu
3. Tak ada SPAM diantara kita