Bagai Anak Ayam Kehilangan Induknya

Bissmillahirrohmanirrokhim

Bagai anak ayam kehilangan induknya, sering telinga kita mendengar ungkapan itukan? arti umumnya adalah perasaan nestapa yang akhirnya berkembang menjadi kebingung/kalang kabut karena telah ditinggalkan sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya, sesuatu itu biasanya adalah seseorang yang dekat dengan kita dan kedekatannya itu adalah rasa ketergantungan kita kepadanya.

Pernah kita mengalami?
Bagaimana andai kita yang sedang mengalami?
Siapkah kita andai tiba-tiba mengalami?

Setiap orang akan pasti, pernah atau akan mengalaminya.
Seorang istri/anak yang ditinggal suami sekaligus ayah bagi anaknya , alhasil siapa yang ditinggalkan akan mengalami perasaan terkatung-katung dan ketakutan akan nasib keberlangsungan hidup masa mendatang,

Seseorang yang kehilangan pekerjaan karena terPHK atau karena sudah waktunya pensiun juga tak kalah susahnya,
Atau bentuk-bentuk kehilangan  lain yang serupa dengan kasus di atas meskipun dengan tingkat dan derajat berat-ringannya masalah yang berbeda, semakin berarti yang meningggalnya semakin berat juga perasaan kehilangannya.

Perlu satu tahun lebih lamanya untuk menyesuaikan perasaan kehilangan itu, seolah belum percaya saja ketika seorang figur ayah yang jadi tokoh sentral dan kebanggaan, yang merupakan satu-satunya penopang kehidupan keluarga secara mendadak dikabarkan meninggal dunia. Tak ada dan tak perlu lagi untuk menggambarkan rasa sedih dan penyesalan karena kehilangan itu karena setiap orang pasti juga mengalaminya, mau tidak mau suatu saat harus mengalaminya.

Sobat semua, bentuk contoh kehilangan di atas adalah peristiwa sunnatulloh yang  wajar dan melekat dalam perhatian kita ; ada hidup pasti akan mati, ada siang pasti sebentar lagi malam, ada pagi sebentar lagi senja menjelang, ada muda tanpa ditunggu, sebentar lagi usiapun menjadi bangka dan seterusnya. Ada bentuk kehilangan yang kadang luput dari perhatian kita sehingga kita terlena melewatkan begitu saja

1. Umur  adalah kesempatan; dibiarkan mengalir liar tanpa usaha mewarnai usia itu dengan aktivitas-aktivitas yang berarti, akhirnya tiba-tiba saja kita terlambat sadar karena ternyata kita telah menyia-nyiakannya

2.Keimanan ; begitu juga, tidak terpelihara dengan baik setelah datangnya hidayah kesadaran, tiba-tiba saja rasa keimanan itu telah membeku  sampai akhirnya ternyata maut tak mau berkompromi lagi untuk menunda sesuai dengan keinginan kita.

Jika kehilangan istri/suami yang masih bisa dicari  dengan lebih banyak lagi, yang jika kehilangan anak yang masih bisa dibikin lagi, atau jika kehilangan harta benda apalagi masih mungkin  dicari lebih banyak lagi itu, akan membuat kita bersusah-susah seperti anak ayam kehilangan induknya, apalagi andai kita telah kehilangan umur dan keimanan ?

Memang apapun bentuk kehilangan itu tidak ada menyenangkan, sedih dan susah semuanya, apalagi jika harus kehilangan umur dan keimanan, kemana ini akan dicari, karena sebenarnya keduanya juga menjadi tokoh ibu bapak kita dalam kehidupan , kehilangan keduanya jauh lebih berakibat fatal, karena ke duanya merupakan  nilai yang harus dipertanggungjawabkan dalam kubur hingga padang maghsyar

Demikian sobat, barangkali postingan ini ada kesamaan dengan posting-posting sebelumnya klik1, klik 2 tapi berharap ini bermanfaat untuk renungan singkat di hari Jum'at ini.




 

Related Posts: